Oh Lia, Mengapa Kau Pergi Tanpa Kata – Cerita Perantau Baru di Jakarta

Aku masih ingat hari itu. Hari di mana toga belum lama kulepas dari kepala, tapi dunia sudah menuntutku untuk berlari. Lulus dari ITS—kampus yang sudah jadi rumah keduaku selama empat tahun—ternyata bukan akhir dari segalanya. Justru di situlah semuanya baru dimulai.
Seorang perempuan muda berdiri di depan rumah mess pekerja di Jakarta, menatap kosong ke rumah sebelah yang kini sepi tanpa penghuni.
Rumah mess pertama di Jakarta, tempat di mana persahabatan singkat itu dimulai dan berakhir tanpa ucapan perpisahan
Tawaran kerja itu datang begitu cepat. Jakarta. Kota yang selama ini hanya kulihat lewat layar kaca, lewat cerita-cerita senior yang sudah lebih dulu merantau. Jujur, hatiku berat. Meninggalkan Surabaya berarti meninggalkan semua yang sudah kukenal: warung kopi langganan, jalanan kampus yang rindang, dan teman-teman yang sudah seperti keluarga.
Tapi apa daya? Daripada menganggur dan jadi beban orang tua di kampung, akhirnya kuambil juga keputusan itu. "Jakarta, aku datang," bisikku dalam hati, meski langkah kaki terasa berat.

Sembilan Wajah Baru, Satu Nasib yang Sama

Aku tidak sendirian. Ada sembilan orang lainnya—beda jurusan, beda latar belakang, tapi sama-sama baru lulus dan sama-sama bingung menghadapi dunia kerja yang asing ini. Kami seperti anak ayam yang baru dikeluarkan dari kandang, saling pandang satu sama lain tanpa tahu harus melangkah ke mana.
Perusahaan menyewakan kami sebuah rumah di perumahan yang dijadikan mess pekerja baru. Rumah sederhana, tapi cukup untuk menampung kami yang masih sama-sama meraba-raba kehidupan di ibu kota. Di sanalah aku belajar bahwa Jakarta bukan hanya soal gedung-gedung tinggi dan kemacetan yang tak berujung. Jakarta juga soal manusia-manusia yang saling mencari kehangatan di tengah hiruk-pikuknya.

Rumah Sebelah dan Sosok Bernama Lia

Hari-hari pertama di mess berjalan biasa saja. Bangun pagi, berangkat kerja, pulang dengan lelah, lalu tidur. Rutinitas yang monoton. Sampai suatu hari, aku menyadari ada sosok yang sering terlihat di rumah sebelah.
Namanya Lia. Dia asisten rumah tangga di rumah itu. Usianya mungkin tidak jauh beda dariku, tapi sorot matanya menyimpan cerita yang lebih tua dari usianya. Pertama kali kami bicara hanya sekadar basa-basi. "Baru di sini, Mbak?" tanyanya sambil tersenyum ramah.
Dan dari situlah semuanya bermula.

Curhat di Teras, Tawa di Balik Lelah

Entah bagaimana awalnya, teras belakang rumah mess jadi tempat favorit kami untuk bertemu. Biasanya setelah jam kerja selesai, saat matahari sudah mulai turun dan angin Jakarta yang panas akhirnya sedikit bermurah hati, Lia akan duduk di sana. Kadang membawa secangkir teh, kadang hanya duduk kosong menatap langit.
Aku yang awalnya hanya lewat, lama-lama ikut duduk. Satu kalimat jadi dua kalimat. Dua kalimat jadi satu cerita. Satu cerita jadi curhatan panjang yang kadang tidak ada ujungnya.
Dia bercerita tentang kampung halamannya, tentang keluarga yang ditinggalkan, tentang mimpi-mimpi kecil yang belum sempat terwujud. Aku bercerita tentang Surabaya, tentang kampus, tentang kebingungan menghadapi dunia kerja yang ternyata tidak seindah bayangan.
Kami tertawa bersama. Kami diam bersama. Kami menangis diam-diam saat hidup terasa terlalu berat. Lia bukan sekadar tetangga. Dia jadi tempatku pulang setelah seharian dihajar kerasnya Jakarta.

Kepulangan yang Kukira Hanya Sebentar

Lalu hari itu datang. Lia bilang dia harus pulang kampung. Ada urusan keluarga yang tidak bisa ditinggalkan. Aku mengangguk, tersenyum, dan berkata, "Hati-hati ya. Jangan lama-lama, nanti aku nggak punya teman curhat."
Lia tertawa kecil. "Paling juga beberapa hari, Mbak."
Dan aku percaya. Bodohnya aku percaya.
Hari pertama tanpa Lia, rumah sebelah terasa sepi. Hari kedua, aku masih menunggu. Hari ketujuh, aku mulai gelisah. Minggu kedua, aku mengirim pesan. Centang satu. Minggu ketiga, centang satu lagi. Bulan berikutnya, aku coba menelepon. Nomor tidak aktif.
Berbulan-bulan berlalu. Lia tidak pernah kembali.
Nomor kontaknya sudah diganti. Setiap pesan yang kukirim hanya berakhir dengan centang satu yang menyakitkan. Seolah-olah dia tidak pernah ada. Seolah-olah semua tawa di teras belakang itu hanya ilusi yang kubuat sendiri.

Oh Lia, Mengapa Harus Begini?

Kadang aku duduk di teras itu sendirian. Menatap rumah sebelah yang kini dihuni orang lain. Menatap kursi kosong tempat Lia biasa duduk. Dan aku bertanya-tanya.
Oh Lia, kenapa kamu mengenalkanku pada hangatnya persahabatan jika kamu harus pergi tanpa kata perpisahan? Kenapa kamu memberiku tempat untuk bersandar jika kamu harus menghilang seperti kabut pagi?
Aku tidak marah. Sungguh. Aku hanya kecewa. Kecewa karena bahkan ucapan "selamat tinggal" pun tidak sempat kau berikan. Kecewa karena aku tidak tahu apakah kamu baik-baik saja di sana. Kecewa karena aku bahkan tidak tahu harus mencari ke mana.

Jakarta Mengajarkanku Satu Hal

Sekarang, setelah beberapa lama berlalu, aku mulai memahami satu hal. Jakarta—dan mungkin kehidupan secara umum—tidak pernah menjanjikan bahwa setiap pertemuan akan berakhir dengan perpisahan yang layak. Kadang orang datang hanya untuk singgah. Kadang mereka pergi tanpa sempat menoleh ke belakang.
Lia mungkin sudah menemukan jalannya sendiri. Mungkin dia sudah bahagia di kampung halamannya. Mungkin dia punya cerita baru yang tidak lagi melibatkan aku. Dan itu tidak apa-apa.
Tapi izinkan aku mengenangnya di sini, di blog ini. Karena Lia pernah ada. Dia pernah nyata. Dan dia pernah jadi alasan kenapa Jakarta tidak terasa terlalu menakutkan untuk seorang perantau baru seperti aku.

Untuk Kamu yang Pernah Kehilangan Seseorang Tanpa Ucapan Selamat Tinggal

Kalau kamu membaca ini dan merasa relate, ketahuilah bahwa kamu tidak sendirian. Kehilangan seseorang tanpa kesempatan untuk mengucapkan selamat tinggal memang menyakitkan. Tapi bukan berarti kenangan itu tidak berharga.
Justru karena singkatnya, kenangan itu jadi lebih berharga. Justru karena tidak ada perpisahan, kita belajar untuk merelakan tanpa penutupan. Dan itu, entah bagaimana, membuat kita jadi lebih kuat.
Terima kasih, Lia. Untuk setiap curhat di teras belakang. Untuk setiap tawa yang kau bagikan. Untuk setiap kali kau membuat Jakarta terasa sedikit lebih manusiawi.
Aku tidak tahu di mana kamu sekarang. Tapi aku harap kamu baik-baik saja. Selalu.

Pernahkah kamu kehilangan seseorang tanpa ucapan perpisahan? Ceritakan di kolom komentar. Kadang, menulis tentang mereka adalah cara terbaik untuk mengenang.