Hari Ini Aku Tidak Produktif, dan Tidak Apa-Apa
Hari ini aku tidak melakukan apa-apa yang berguna.
Biar kutulis pelan-pelan supaya kamu ikut mendengar: ha-ri-ini-a-ku-ti-dak-produk-tif.
Checklist di meja masih penuh. Cucian masih menumpuk. Dua chat belum kubalas. Dan aku menghabiskan sebagian besar sore dengan berbaring di lantai, menatap cahaya di langit-langit yang bergerak pelan, seperti tamu di rumah sendiri.
Dan tahu apa bagian paling anehnya? Dunia tidak runtuh.
Dari Mana Datangnya Rasa Bersalah Ini?
Aku coba telusuri: sejak kapan "tidak melakukan apa-apa" terasa seperti dosa?
Mungkin dari pertanyaan yang selalu ditanyakan orang tiap bertemu: "Sekarang sibuk apa?" Seolah nilai kita adalah jawaban dari pertanyaan itu. Mungkin dari feed yang tidak pernah berhenti menampilkan orang-orang yang menang: promosi, maraton, side hustle, rumah baru.
Pelan-pelan, tanpa sadar, kita memasang hakim kecil di kepala. Dan hakim itu tidak pernah libur.
Tapi Dunia Tidak Runtuh
Hari ini aku mengujinya: apa yang terjadi kalau aku tidak produktif sehari?
Jawabannya: tidak ada. Cucian menungguku dengan sopan. Chat masih di sana saat kubuka. Pekerjaan tidak kabur. Bumi berputar dengan kecepatan yang sama seperti biasa.
Yang berubah cuma satu: aku akhirnya mendengar pikiranku sendiri. Dan ternyata, kepalaku punya banyak hal untuk dikatakan yang tidak pernah kudengarkan. (Soal kepala yang berisik saat kita tidak pernah memberi jeda, kutulis di Diary 02.17: Ketika Kepala Lebih Berisik dari Malam.)
Istirahat Bukan Hadiah
Mungkin ini logika keliru yang kita bawa sejak lama: boleh istirahat kalau sudah selesai.
Masalahnya, "selesai" tidak pernah datang. Daftar selalu punya halaman berikutnya. Maka istirahat terus ditunda, seperti gaji yang tidak pernah dibayar.
Padahal istirahat bukan hadiah untuk kerja. Ia kebutuhan — seperti air, seperti udara, seperti didengarkan. Simbah dulu menyebutnya ngaso (menarik napas), dan beliau tidak pernah sekali pun merasa bersalah karenanya. (Soal seni ngaso yang hilang, kutulis di Seni "Ngaso" yang Hilang: Istirahat Bukan Berarti Malas.)
Apa yang Sebenarnya Kulakukan Hari Ini
Malamnya, aku mencoba menulis daftar yang jujur. Bukan daftar yang tidak jadi — tapi daftar yang jadi:
- Bernapas pelan-pelan untuk pertama kalinya dalam seminggu.
- Makan tanpa menatap layar, dan ternyata sayur lodehnya seenak itu.
- Menatap hujan dan mengingat bahwa aku suka bau tanah basah.
- Membalas satu chat teman dengan "kamu baik-baik saja?" — dan ternyata dia memang sedang butuh ditanya.
- Bertahan melewati minggu yang berat.
Menatap daftar itu, aku tertawa kecil. Mungkin hari ini aku tidak "produktif". Tapi hari ini, aku menjadi manusia. Dan bukankah itu sudah cukup?
Surat Izin Kecil
Kalau kamu juga punya hari yang tidak produktif hari ini, anggap artikel ini surat izin. Ditandatangani oleh sesama yang lelah:
Boleh istirahat. Boleh tidak melakukan apa-apa. Nilaimu bukan daftar centangmu.
Besok kita boleh sibuk lagi. Tapi hari ini, kita ada dulu.
Hari ini bagaimana harimu? Kalau juga tidak produktif — selamat datang, duduklah. Lantai ini masih luas. 🤍