Diary 02.17: Ketika Kepala Lebih Berisik dari Malam

Semua orang tidur. Kulkas berdengung. Ada motor lewat entah ke mana. Dan kepalaku? Kepalaku sedang rapat tanpa agenda, dan pesertanya adalah semua versi diriku yang pernah berbuat salah.
Jam dua pagi, hal-hal yang datang berkunjung selalu sama:
  • Malu tahun 2019 yang tiba-tiba diputar ulang dalam definisi tinggi.
  • Chat yang belum kubalas dan sudah tiga hari kutunda.
  • Khawatir tentang bulan depan yang bahkan belum pasti.
  • Dan satu pertanyaan paling pelan tapi paling tajam: aku ketinggalan, tidak, ya?

Ilustrasi cat air: seseorang duduk memeluk lutut di tepi jendela tengah malam, buku catatan terbuka di pangkuan, jam kecil menunjukkan pukul 02.17, ruangan bernuansa biru redup dengan satu lampu kecil hangat.
"Jam dua pagi: kepala mengadakan rapat tanpa agenda. 🌙"

Kenapa Kepala Baru Berisik Saat Malam?

Siang hari aku baik-baik saja. Sibuk, tertawa, membalas chat dengan stiker ngakak. Tapi ternyata siang hanyalah penutup. Malam hari, saat rumah sepi, tutupnya terbuka — dan semua yang tidak sempat kurasakan siang hari, antre minta diakui.
Dulu aku mengira ini kelemahan. Sekarang aku pikir: mungkin ini cara tubuh menagih perasaan yang kutunda.

Dan Aku Sendiri yang Memperparahnya

Bagian terburuknya? Saat kepala berisik, yang kuambil adalah... hp. Seolah scroll bisa mengecilkan volumenya. Padahal tidak. Cahaya layar dan feed tanpa ujung justru membuat malam makin panjang. (Kutulis soal itu di Scroll "5 Menit" yang Berakhir Jam 2 Pagi — bacanya siang hari saja, ya. Jangan malam-malam.)

Apa yang Dulu Dijaga Leluhur

Lucunya, leluhurku sebenarnya punya aturan soal istirahat. Surup ojo turu, jangan tidur waktu surup; dan malam adalah waktu pulang — bukan berkeliaran, termasuk berkeliaran di dalam kepala sendiri. (Kutulis renungannya di Surup Ojo Turu: Mung Pamali, utawa Ana Piwulange?). Mungkin yang hilang dari kita bukan aturannya, tapi ritmenya.

Cara Kecil Berdamai (yang Sedang Kucoba)

  • Menuliskannya. Seperti diary ini. Pikiran yang ditulis ternyata lebih pelan daripada pikiran yang diputar.
  • Bilang pada diri sendiri: "tidak semua harus selesai malam ini." Sebagian masalah hanya butuh tidur, bukan jawaban.
  • Meletakkan hp di luar jangkauan tangan. Cukup jauh sampai aku harus berdiri — dan biasanya, aku malas.
  • Berdoa, atau sekadar tarik napas pelan-pelan. Lima menit saja. Cukup untuk menurunkan volume satu tingkat.

Untuk Kamu yang Juga Belum Tidur

Kalau kamu membaca ini jam dua pagi juga: kamu tidak sendirian. Dan berisik di kepalamu bukan tanda kamu lemah — itu tanda kamu manusia, yang terlalu banyak menunda perasaan di siang hari.
Tidur, ya. Dunia tidak akan runtuh kalau kamu memejamkan mata beberapa jam. Malu 2019 tidak perlu diselesaikan malam ini. Bulan depan juga tidak minta dicemaskan sekarang.
Selamat tidur. Atau selamat pagi, untuk kita yang masih berdamai dengan malam. 🌙

Hal paling berisik apa yang mampir ke kepalamu saat malam sepi? Tuliskan di kolom komentar — kita taruh sama-sama di sini, biar kepala kita sedikit lebih lega.