Jajan Sekolah Rp500: Mengenang Rasa yang Tak Bisa Dibeli Lagi

Bel istirahat berbunyi, dan suara itu seperti pistol start. Dari setiap kelas, kami berlarian keluar dengan koin lima ratus rupiah tergenggam erat di saku, mengantre di "restoran" paling ramai sedunia: gerobak jajanan di depan gerbang sekolah.
Tidak ada menu, tidak ada ulasan, tidak ada bintang lima. Tapi percayalah, tidak ada yang lebih enak dari jajanan itu.
Hari ini, bertahun-tahun kemudian, saya bisa membeli makanan yang jauh lebih mahal. Tapi kenapa tidak ada satu pun yang rasanya seperti Rp500 waktu itu?
Ilustrasi anak SD berseragam merah putih membeli jajanan tahun 90-an seperti es kristal dan mie lidi di gerobak depan gerbang sekolah
Sekeping koin Rp500 dulu bisa membeli kebahagiaan paling murni: es kristal, mie lidi, dan tawa bersama sahabat di depan gerbang sekolah. (Ilustrasi: AI)

Rp500 dan Kekayaan yang Sesungguhnya

Bagi anak 90-an dan awal 2000-an, Rp500 bukan sekadar uang saku. Ia adalah tiket menuju kebahagiaan. Dengan satu koin, kami dihadapkan pada keputusan paling penting hari itu: es kristal atau mie lidi? Permen botol atau chiki?
Dan yang luar biasa—Rp500 sering kali cukup untuk dua item, plus kembalian untuk meminjamkan teman yang lupa bawa uang. Aneh, ya? Dulu kami miskin uang tapi kaya tawa. Sekarang kebalikannya... tapi kamu tahu sendiri kelanjutannya.
Jajan Sekolah Rp500: Mengenang Rasa yang Tak Bisa Dibeli Lagi
Jajan Sekolah Rp500: Mengenang Rasa yang Tak Bisa Dibeli Lagi

Deretan Jajanan Legendaris yang Kini Tinggal Cerita

Es Kristal: Sensasi Menunggu yang Lebih Nikmat dari Es Krim Mahal

Tabung plastik berisi es warna-warni. Kami menyeruputnya pelan-pelan, kadang rebutan warna yang "paling menjanjikan". Keseruannya bukan cuma di rasa, tapi di strategi menunggu es mencair pas di waktunya.

Mie Lidi: Pedasnya Bikin Nangis, Tapi Nagih

Mie kering berbalut bumbu merah yang bikin bibir gemetar. Kami tahu itu "tidak sehat", kami tahu akan dimarahi ibu, tapi justru di situlah letak enaknya—rasa kenakalan yang paling jujur.

Permen Botol dan Permen Kaki

Permen rasa soda berbentuk botol cola mini, atau permen kaki yang kami selipkan di jari sebelum dimakan (jangan tanya soal higienitas—waktu itu kami tidak tahu, dan baik-baik saja). Manisnya sederhana, tapi tawa yang menyertainya gratis.

Chiki dan Adu Kartu

Camilan renyah dengan hadiah di dalamnya. Oke, hadiahnya biasanya hanya kartu, tapi mengoleksinya terasa seperti mengumpulkan harta karun. Semakin keras bunyi "kriuk"-nya, semakin keren rasanya kami.

Ritual yang Lebih Berharga dari Jajanannya

Begini, ada satu hal yang baru saya sadari setelah dewasa: yang kami beli sebenarnya bukan jajannya.
Kami membeli ritualnya. Antre sambil dorong-dorongan. Patungan buat beli bareng lalu dibagi rata. Senioritas "udah, aku yang traktir" saat uang teman kurang. Bang penjaja yang hafal jajan favorit setiap anak.
Kami membeli kebersamaan yang tidak bisa diantar oleh aplikasi pesan-antar mana pun.

17 Agustus: Ketika Jajanan Jadi Bagian dari Pesta

Bicara soal kebersamaan, tidak mungkin melewatkan 17 Agustus. Kalau di hari biasa Rp500 adalah tiket menuju kebahagiaan, maka di pekan kemerdekaan, kebahagiaan datang tanpa tiket sama sekali. Setelah lomba makan kerupuk, balap karung, dan kelereng di sendok selesai, panitia biasanya menggelar meja panjang di samping gapura bambu: teko besar berisi teh manis, jajanan, dan kadang semangka potong. Kami, anak-anak, kembali mengantre—tapi kali ini bukan untuk membeli, melainkan untuk menerima "rampasan perang" usai berlomba.
17 Agustus: Ketika Jajanan Jadi Bagian dari Pesta
17 Agustus: Ketika Jajanan Jadi Bagian dari Pesta

Rasa teh manis yang kemanisan dan jajanan yang dibagi rata kepada pemenang maupun peserta yang kalah lomba—entah mengapa terasa lebih enak dari apa pun. Mungkin karena ia bercampur keringat, tawa, dan bangga karena ikut memakai bando kertas merah-putih. Waktu itu saya tidak paham arti kata "kemerdekaan". Tapi sekarang saya tahu: bagi anak kecil, merdeka adalah bebas tertawa, bermain, dan jajan tanpa dikejar-kejar PR atau dimarahi karena seragam kotor.

Mengapa Rasa Itu Tak Bisa Dibeli Lagi?

Saya sudah mencoba mengulanginya. Membeli jajanan serupa secara online. Rasanya? Mirip. Tapi ada yang hilang.
Ternyata yang hilang bukan di jajannya. Yang hilang adalah istirahat 10 menit di antara jam pelajaran. Teman-teman yang tertawa tanpa alasan. Ringannya hidup yang belum kenal tagihan dan tenggat.
Rasa Rp500 itu tidak bisa dibeli lagi—karena yang kami rindukan sebenarnya bukan jajannya. Melainkan versi diri kami yang bisa bahagia hanya dengan satu koin.

Wariskan Ceritanya, Bukan Hanya Rasanya

Mungkin anak-anak kita tidak akan pernah merasakan serunya antre di gerobak jajanan. Tapi justru karena itu, cerita seperti ini perlu ditulis. Agar mereka tahu bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dengan harga mahal—kadang ia datang dalam bentuk es warna-warni di tabung plastik, dinikmati berdua di bawah matahari siang.
Nah, sekarang giliranmu: apa jajan sekolah favoritmu dulu? Tulis di kolom komentar—saya yakin, begitu membaca namanya, rasanya langsung ikut kembali. 👇