Marwan, Teman Masa Kecilku Pindah Rumah
Ada sore yang biasa saja, dan ada sore yang diam-diam mengubah segalanya. Bagiku, sore itu adalah yang kedua.
| "Kami selalu bareng — ke sekolah, ke masjid, ke mana pun. Sampai sore itu mengajarkan arti perpisahan." |
Koper Besar di Sore Itu
Pada sore itu, kagetku bukan main ketika melihat ibunya Marwan membawa koper besar keluar dari rumahnya. Awalnya aku pikir itu hal biasa — seperti kebiasaan beliau memberikan sedekah pakaian kepada anak-anak yatim di sekitar rumah kami.
Tapi kali ini ada yang berbeda. Kok tasnya besar sekali?
Tanpa aku sadari apa yang tengah terjadi, rasa kaget dan heranku perlahan hilang saat ibu menepuk pundakku. "Kamu yang sabar ya, Nak," katanya lembut.
"Kamu yang Sabar ya, Nak"
Aku bingung. Sabar untuk apa?
Ibu lalu menjawab pelan: Marwan akan pergi ke Sulawesi, mengikuti dinas bapaknya. Bukan main sedihnya aku saat itu. Marwan bukan sekadar teman. Hanya dia teman dekatku, sejak aku bisa mengingat sampai umur 11 tahun saat itu.
Pelukan yang Basah oleh Air Mata
Tak terasa, air mata menetas. Aku berlari memeluk Marwan yang ternyata juga menangis.
"Kapan kamu kembali? Atau... menetap di sana?" tanyaku.
Terus bagaimana aku nanti? Dengan siapa aku bermain? Masih banyak pertanyaan yang menggantung, seperti kegiatan-kegiatan kami yang tiba-tiba terasa akan hilang semua.
Padahal kami selalu berangkat sekolah bareng. Main bareng. Ke masjid juga bareng. Hatiku berkecamuk, entah apa yang akan kulakukan tanpa Marwan. Maklum, waktu itu aku masih kecil — dan bagi anak kecil, kehilangan satu teman dekat sama dengan kehilangan setengah dunia.
Sepi yang Tertinggal
Anak kecil tidak pernah diajari cara mengucapkan selamat tinggal. Di umur segitu, kami mengira setiap perpisahan hanya sebentar, seperti hujan yang lewat lalu kering lagi. Ternyata ada perpisahan yang benar-benar panjang — yang sampai bertahun-tahun kemudian masih terasa hangat di dada.
Untuk Marwan, di Mana Pun Kamu Sekarang
Tulisan ini aku buat bukan untuk mencari siapa-siapa. Aku hanya ingin menyimpan sore itu supaya tidak lupa: bahwa aku pernah punya teman bernama Marwan, yang mengajariku arti berangkat bareng, main bareng, dan kehilangan.
Di mana pun kamu sekarang, Wan, semoga hidup baik-baik saja memelukmu — seperti pelukan kita sore itu.
Pernahkah kamu kehilangan teman masa kecil karena pindah rumah? Kalau iya, aku ingin tahu: masihkah kamu mengingat namanya? Ceritakan di kolom komentar, ya.