Fenomena Sandal Jepit di Depan Warung: Kenapa Kita Masih Percaya Orang Asing Jaga Alas Kaki? (Diary Sore Penjaga Warung)
Sore tadi, sekitar jam 4 lebih sedikit, matahari lagi enak-enaknya condong ke barat. Saya lagi nyapu teras warung sambil sesekali nyeruput kopi yang mulai hangat-hangat kuku. Tiba-tiba, seorang bapak-bapak parkir motor di depan, terus dengan santai melepas sandal jepitnya dan menaruh di pinggir tembok warung, persis di sebelah ember bekas cat yang saya pakai buat naruh botol kecap. Deretan sandal di depan warung: bukti bahwa kepercayaan itu masih hidup di tengah hiruk-pikuk zaman. "Mas, titip ya," katanya sambil senyum, terus masuk ke dalam buat beli rokok dan es teh. Saya cuma manggut. "Iya, Pak." Peristiwa itu sebenernya udah kejadian ribuan kali di warung saya. Tapi sore tadi, entah kenapa, saya jadi mikir: kenapa ya orang-orang masih percaya naruh sandal di depan warung tanpa dijaga? Padahal, itu sandal jepit. Harganya paling cuma 20-30 ribu rupiah. Nggak ada CCTV, nggak ada gembok, nggak ada nomor antrian. Cuma ditaruh gitu aja...