Langsung ke konten utama

Postingan

Fenomena Sandal Jepit di Depan Warung: Kenapa Kita Masih Percaya Orang Asing Jaga Alas Kaki? (Diary Sore Penjaga Warung)

Sore tadi, sekitar jam 4 lebih sedikit, matahari lagi enak-enaknya condong ke barat. Saya lagi nyapu teras warung sambil sesekali nyeruput kopi yang mulai hangat-hangat kuku. Tiba-tiba, seorang bapak-bapak parkir motor di depan, terus dengan santai melepas sandal jepitnya dan menaruh di pinggir tembok warung, persis di sebelah ember bekas cat yang saya pakai buat naruh botol kecap. Deretan sandal di depan warung: bukti bahwa kepercayaan itu masih hidup di tengah hiruk-pikuk zaman. "Mas, titip ya," katanya sambil senyum, terus masuk ke dalam buat beli rokok dan es teh. Saya cuma manggut. "Iya, Pak." Peristiwa itu sebenernya udah kejadian ribuan kali di warung saya. Tapi sore tadi, entah kenapa, saya jadi mikir: kenapa ya orang-orang masih percaya naruh sandal di depan warung tanpa dijaga? Padahal, itu sandal jepit. Harganya paling cuma 20-30 ribu rupiah. Nggak ada CCTV, nggak ada gembok, nggak ada nomor antrian. Cuma ditaruh gitu aja...

Diary Pagi: Kursi Warkop yang Hampir Patah, Pelajaran tentang Kesabaran dan Penerimaan

Pukul 05.30 pagi. Saya datang ke warkop seperti biasa. Nyalakan lampu, buka pintu, siapkan kopi. Rutinitas yang sama setiap hari. Tapi hari ini ada yang berbeda. Saat saya menyapu lantai, mata saya tertarik pada kursi yang sebelah kanan — kursi kesayangan saya yang sudah berusia 8 tahun. Kursi tua yang hampir patah mengajarkan kita tentang penerimaan, kesederhanaan, dan makna di balik hal-hal sederhana dalam hidup. Kursi itu terlihat... aneh. Kakinya tidak sejajar lagi. Dudukan-nya sedikit miring. Seperti sedang "kesakitan". Saya ingat. Kemarin malam, ada pelanggan yang terburu-buru. Dia kesandung kursi itu dengan sangat keras. Suaranya nyaring — BRAK! Semua orang di warkop tersentak. Pelanggan itu langsung minta maaf. Saya bilang nggak apa-apa. Tapi dalam hati, saya sudah tahu kursi itu kena. Sekarang, di pagi yang tenang ini, saya berdiri di depan kursi itu dan merenungkan. Tidak hanya tentang kursi, tapi tentang banyak hal. Kursi yang Hampir Pata...
------- =======