Diary: Menemukan Buku Catatan Lama dan Tulisan Tangan yang Mulai Asing

Hari ini toko agak sepi. Daripada hanya melamun menatap layar laptop, aku memutuskan untuk melakukan sesuatu yang sudah lama tertunda: membereskan laci meja paling bawah. Laci "kuburan" tempat barang-barang yang tidak lagi dipakai, tapi terlalu sayang untuk dibuang. "Mesin bisa mengetik sempurna, tapi hanya tangan yang bisa merekam denyut nadi. 🖋️" Di sudut paling dalam, tertimbun di bawah kabel charger lama dan bon belanja yang sudah pudar, aku menemukannya. Sebuah buku catatan bersampul kulit sintetis yang sudah mengelupas. Aku membukanya. Dan tiba-tiba, aku terdiam. Siapa Orang yang Menulis Ini? Halaman pertama dipenuhi oleh tulisan tangan. Tinta pulpen biru yang sudah mulai memudar, dengan lekukan dan tarikan garis yang terasa... asing. Aku menyipitkan mata, mencoba mengenali. Ini tulisanku? Bentuk hurufnya lebih bulat, lebih terburu-buru, dan ada banyak coretan kasar di sana-sini saat aku salah mengeja. Ada noda tinta yang meluber di sudut halaman, mungkin kar...

Baca selengkapnya →

Diary: Aroma Tanah Basah dan Mesin Waktu yang Bekerja Lewat Hidung

Hujan turun sekitar pukul empat sore tadi. Aku sedang duduk di depan toko, menunggu pembeli, ketika tetes pertama jatuh ke tanah yang sudah berhari-hari kering. Dan bersamaan dengan suara "tik" itu, ada sesuatu yang lain yang ikut naik ke udara: aroma tanah basah. Aku menarik napas. Dan tiba-tiba, tanpa aba-aba apa pun, aku tidak lagi duduk di sini. Aku kembali ke umur tujuh tahun. "Yang kita rindukan bukan hujannya. Tapi perasaan bahwa ada tempat untuk pulang. ☔" Mesin Waktu yang Tidak Perlu Bensin Aku duduk di teras rumah lama. Lantainya dingin. Di atas meja kayu kecil ada segelas teh manis yang masih mengepul. Dan dari dapur — pawon — tercium aroma minyak goreng dan pisang yang sedang digoreng ibu. Hujan di luar menderas. Atap seng berbunyi seperti tepuk tangan yang tidak mau berhenti. Dan aku, dengan kaki kecil yang menggantung di kursi, merasa seperti berada di tempat paling aman di seluruh dunia. Tidak ada notifikasi. Tidak ada tagihan. Tidak ada pertanyaan ...

Baca selengkapnya →

Diary: Kami Tidak Bertengkar. Kami Hanya Berhenti

Sore ini aku membuka hp dan melihat nama itu. Masih tersimpan, masih dengan panggilan aneh yang kami buat sendiri dulu. Chat terakhir kami... delapan bulan lalu. Dua baris, diakhiri stiker. Kami tidak bertengkar. Tidak ada yang mengkhianati. Tidak ada kata kasar yang terakhir terucap. Kami hanya berhenti. Dan ternyata, itu jenis perpisahan yang paling sulit dipahami. "Tidak ada yang salah. Kami hanya selesai pada musim yang berbeda. 🤍" Kehilangan Tanpa Upacara Kalau sebuah pertemanan berakhir dengan pertengkaran, setidaknya ada cerita: "kami jatuh karena ini." Ada marah, ada sedih yang jelas, kadang ada baikan. Tapi kalau pertemanan memudar pelan-pelan, yang kita punya adalah kehilangan tanpa upacara. Tidak ada yang bisa disalahkan. Tidak ada penutup. Hanya ruang kosong yang dulu penuh tawa. Aku sering bertanya: kapan tepatnya itu terjadi? Waktu kita pindah kota? Waktu jam kerjamu jadi jam tidurku? Waktu "kapan-kapan main, ya" mulai terdengar seperti ba...

Baca selengkapnya →