Hari Ini Aku Tidak Produktif, dan Tidak Apa-Apa

Hari ini aku tidak melakukan apa-apa yang berguna. Biar kutulis pelan-pelan supaya kamu ikut mendengar: ha-ri-ini-a-ku-ti-dak-produk-tif. Checklist di meja masih penuh. Cucian masih menumpuk. Dua chat belum kubalas. Dan aku menghabiskan sebagian besar sore dengan berbaring di lantai, menatap cahaya di langit-langit yang bergerak pelan, seperti tamu di rumah sendiri. "Hari ini aku tidak produktif. Dan ternyata, dunia baik-baik saja. 🤍" Dan tahu apa bagian paling anehnya? Dunia tidak runtuh. Dari Mana Datangnya Rasa Bersalah Ini? Aku coba telusuri: sejak kapan "tidak melakukan apa-apa" terasa seperti dosa? Mungkin dari pertanyaan yang selalu ditanyakan orang tiap bertemu: "Sekarang sibuk apa?" Seolah nilai kita adalah jawaban dari pertanyaan itu. Mungkin dari feed yang tidak pernah berhenti menampilkan orang-orang yang menang: promosi, maraton, side hustle, rumah baru. Pelan-pelan, tanpa sadar, kita memasang hakim kecil di kepala. Dan hakim itu tidak perna...

Baca selengkapnya →

Diary 02.17: Ketika Kepala Lebih Berisik dari Malam

Semua orang tidur. Kulkas berdengung. Ada motor lewat entah ke mana. Dan kepalaku? Kepalaku sedang rapat tanpa agenda, dan pesertanya adalah semua versi diriku yang pernah berbuat salah. Jam dua pagi, hal-hal yang datang berkunjung selalu sama: Malu tahun 2019 yang tiba-tiba diputar ulang dalam definisi tinggi. Chat yang belum kubalas dan sudah tiga hari kutunda. Khawatir tentang bulan depan yang bahkan belum pasti. Dan satu pertanyaan paling pelan tapi paling tajam: aku ketinggalan, tidak, ya? "Jam dua pagi: kepala mengadakan rapat tanpa agenda. 🌙" Kenapa Kepala Baru Berisik Saat Malam? Siang hari aku baik-baik saja. Sibuk, tertawa, membalas chat dengan stiker ngakak. Tapi ternyata siang hanyalah penutup. Malam hari, saat rumah sepi, tutupnya terbuka — dan semua yang tidak sempat kurasakan siang hari, antre minta diakui. Dulu aku mengira ini kelemahan. Sekarang aku pikir: mungkin ini cara tubuh menagih perasaan yang kutunda. Dan Aku Sendiri yang Memperparahnya Bagian terbur...

Baca selengkapnya →

Jajan Sekolah Rp500: Mengenang Rasa yang Tak Bisa Dibeli Lagi

Bel istirahat berbunyi, dan suara itu seperti pistol start. Dari setiap kelas, kami berlarian keluar dengan koin lima ratus rupiah tergenggam erat di saku, mengantre di "restoran" paling ramai sedunia: gerobak jajanan di depan gerbang sekolah. Tidak ada menu, tidak ada ulasan, tidak ada bintang lima. Tapi percayalah, tidak ada yang lebih enak dari jajanan itu. Hari ini, bertahun-tahun kemudian, saya bisa membeli makanan yang jauh lebih mahal. Tapi kenapa tidak ada satu pun yang rasanya seperti Rp500 waktu itu? Sekeping koin Rp500 dulu bisa membeli kebahagiaan paling murni: es kristal, mie lidi, dan tawa bersama sahabat di depan gerbang sekolah. (Ilustrasi: AI) Rp500 dan Kekayaan yang Sesungguhnya Bagi anak 90-an dan awal 2000-an, Rp500 bukan sekadar uang saku. Ia adalah tiket menuju kebahagiaan. Dengan satu koin, kami dihadapkan pada keputusan paling penting hari itu: es kristal atau mie lidi? Permen botol atau chiki? Dan yang luar biasa—Rp500 sering kali cukup untuk dua item...

Baca selengkapnya →

Mengapa Kenangan Masa Kecil Terasa Lebih Indah? Psikologi di Balik Nostalgia

Pernahkah kamu mendengar lagu lama di radio, dan tiba-tiba... kamu bukan lagi orang dewasa yang lelah ini? Kamu kembali jadi anak kecil yang duduk di lantai ruang tengah, menunggu kartun Sabtu pagi, dengan es lilin di tangan. Sabtu pagi, kartun di TV tabung, dan tanpa beban di pundak—kenangan seperti inilah yang paling aman disimpan oleh otak kita. Rasanya hangat, manis, dan sedikit bikin sesak. Kita menyebutnya kangen. Psikologi menyebutnya nostalgia . Tapi pernahkah kamu bertanya: mengapa kenangan masa kecil terasa lebih indah daripada kenyataannya dulu? Nostalgia Dulu Dianggap "Penyakit" Unik sekali, kata nostalgia berasal dari bahasa Yunani: nostos (pulang ke rumah) dan algos (rasa sakit). Istilah ini diciptakan tahun 1688 oleh seorang mahasiswa kedokteran Swiss bernama Johannes Hofer—dan awalnya nostalgia dianggap penyakit yang menyerang tentara yang jauh dari kampung halaman. Berabad-abad kemudian, riset modern justru menemukan hal sebaliknya. Para psikolog seperti...

Baca selengkapnya →