Diary: Menemukan Buku Catatan Lama dan Tulisan Tangan yang Mulai Asing
Hari ini toko agak sepi. Daripada hanya melamun menatap layar laptop, aku memutuskan untuk melakukan sesuatu yang sudah lama tertunda: membereskan laci meja paling bawah. Laci "kuburan" tempat barang-barang yang tidak lagi dipakai, tapi terlalu sayang untuk dibuang.
Di sudut paling dalam, tertimbun di bawah kabel charger lama dan bon belanja yang sudah pudar, aku menemukannya. Sebuah buku catatan bersampul kulit sintetis yang sudah mengelupas.
Aku membukanya. Dan tiba-tiba, aku terdiam.
Siapa Orang yang Menulis Ini?
Halaman pertama dipenuhi oleh tulisan tangan. Tinta pulpen biru yang sudah mulai memudar, dengan lekukan dan tarikan garis yang terasa... asing.
Aku menyipitkan mata, mencoba mengenali. Ini tulisanku?
Bentuk hurufnya lebih bulat, lebih terburu-buru, dan ada banyak coretan kasar di sana-sini saat aku salah mengeja. Ada noda tinta yang meluber di sudut halaman, mungkin karena tanganku berkeringat atau karena aku menumpahkan teh manis bertahun-tahun lalu.
Aku membalik halaman demi halaman. Isinya campur aduk. Ada catatan utang piutang toko, ada coretan ide yang tidak pernah jadi, ada nomor telepon orang yang sudah lama tidak kuhubungi, dan ada satu paragraf yang isinya hanya keluh kesah tentang hari yang berat.
Dan saat membaca paragraf itu, aku tidak hanya membaca kata-katanya. Aku merasakan emosinya.
Denyut Nadi yang Tertinggal di Kertas
Di situlah aku menyadari sesuatu yang tidak pernah kupikirkan sebelumnya.
Saat kita menulis dengan tangan, kita sedang merekam denyut nadi kita saat itu.
- Kalau kita sedang marah, goresan pulpennya akan menekan keras sampai hampir merobek kertas.
- Kalau kita sedang ragu, hurufnya akan kecil-kecil dan ada banyak jeda.
- Kalau kita sedang lelah, huruf di akhir kalimat akan melorot ke bawah, kehilangan tenaga.
Setiap salah eja yang dicoret, setiap noda tinta, setiap lekukan huruf adalah fosil dari perasaan kita di masa lalu. Ia adalah bukti fisik bahwa kita pernah ada, pernah merasa, dan pernah berjuang di detik itu.
(Tentang bagaimana kita sering kehilangan jejak diri di tengah kebisingan layar, aku pernah menuliskannya di Diary 02.17: Ketika Kepala Lebih Berisik dari Malam. Ternyata, kertas dan pena adalah cara paling hening untuk mendengarkan diri sendiri.)
Sempurna yang Membosankan vs Cacat yang Bernyawa
Hari ini, kita hidup di zaman yang serba sempurna.
Kita mengetik di keyboard, dan huruf-huruf yang muncul di layar selalu rapi, selalu sama, selalu sempurna. Kalau salah ketik, tinggal tekan backspace, dan kesalahannya hilang tanpa bekas, seolah tidak pernah terjadi. Bahkan sekarang, ada AI (kecerdasan buatan) yang bisa merangkai kata-kata puitis dalam hitungan detik, dengan tata bahasa yang jauh lebih baik daripada milikku.
Tapi, sesempurna apa pun ketikan di layar atau rangkaian kata dari mesin, ia tidak punya detak jantung.
Mesin tidak akan pernah tahu rasanya menahan tangis sambil menulis, sehingga tintanya jadi buram. Mesin tidak akan pernah tahu rasanya marah sampai pulpennya patah. Kesempurnaan digital itu steril. Ia tidak meninggalkan jejak luka, dan tidak meninggalkan jejak tawa.
Buku catatan di tanganku ini penuh dengan "cacat". Tapi justru cacat-cacat itulah yang membuatnya hidup. Ia adalah monumen dari ketidaksempurnaanku sebagai manusia.
Jejak yang Kita Tinggalkan
Aku menutup buku itu pelan-pelan.
Aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada buku ini kelak. Mungkin ia akan kembali ke dalam laci, atau mungkin suatu hari nanti akan dibuang oleh seseorang yang tidak mengerti artinya.
Tapi hari ini, aku belajar satu hal: Bahwa menjadi manusia itu bukan tentang menjadi sempurna. Menjadi manusia itu tentang meninggalkan jejak.
Jejak yang tidak selalu lurus, tidak selalu rapi, dan sering kali penuh coretan. Tapi jejak itu nyata. Jejak itu punya cerita.
Mungkin, sesekali, aku harus menutup laptopku. Mengambil selembar kertas dan sebuah pena. Dan menulis sesuatu dengan tanganku sendiri. Bukan untuk dibaca orang lain, bukan untuk diposting di internet, tapi hanya untuk membuktikan pada diriku sendiri:
Bahwa aku masih di sini. Bahwa aku masih nyata. Dan bahwa denyut nadiku masih bisa tertinggal di atas kertas. 🖋️
Apakah kamu masih menyimpan buku catatan atau diary lama dari masa sekolah atau masa kecilmu? Kalau kamu membukanya sekarang, apa yang paling membuatmu rindu dari tulisan tanganmu dulu? Ceritakan di kolom komentar. Mari kita rayakan ketidaksempurnaan kita bersama-sama.