| Jam 05.00 subuh, warung buka, kopi panas siap di meja. Rezeki dijemput pagi. |
Jam 05.00 subuh. Adzan masih menggema dari mushola Manyar. Warung kelontong saya di Gresik sudah buka. Lampu LED Philips 18 watt tak nyalakan, padang terus dari pagi sampai jam 22.00 malam nanti. Ini rutinitas saya setiap hari.
Di meja kayu depan, sudah ada segelas kopi hitam panas mengepul. Bukan untuk dijual, tapi untuk saya sendiri. Teman ngaji subuh, teman nunggu pembeli pertama. Kopi warung, gula sedikit, pahitnya pas.
Banyak orang bilang ngapain buka jam 05.00 pagi, masih sepi. Tapi bagi saya, rezeki itu dijemput pagi. Ono wong budal sawah, ono tukang bangunan berangkat proyek Manyar, mampir beli rokok, beli aqua. Kalau warung tutup, mereka lewat.
Pagi ini saya tulis diary ini sambil nunggu Slamet, kenek proyek yang biasanya mampir jam 05.15. Katanya kopinya warung saya bikin melek tanpa bikin jantung deg-degan. Padahal cuma kopi biasa.
Ritual Subuh Ala Penjaga Warung
1. Buka, Bersih, Nyalakan Lampu. Pertama buka pintu, sapu lantai, lap meja. LED Philips 18 watt itu andalan, awet. Dari jam 05.00 sampai 22.00 kuat. Terus cek toples kopi, gula, teh. Jangan sampai pembeli subuh kecewa. Sambil itu, saya ingat pesan Mbah Kromo (78 tahun, mantan malang - polisi desa zaman dulu, sekarang hansip) yang dulu jaga gedhogan (omahe jaran / kandang kuda / istal). Jare Mbah, "Jaga warung koyo jaga gedhogan, kudune resik, jarane betah, pembeline yo betah."
2. Kopi Panas Sebagai Teman, Bukan Jualan. Kopi di meja ini bukan untuk pamer. Ini jeda. Sebelum sibuk ngitung recehan, sebelum laptop Toshiba Satellite L755 dinyalakan untuk nulis blog amal jariyah, saya butuh 10 menit diam. Seruput kopi, denger kipas angin warung pelan-pelan. Di luar masih dingin, di dalam kopi masih panas. Nikmat sederhana yang sering dilupakan.
3. Nunggu Cerita Pertama Hari Ini. Setiap subuh selalu ada cerita. Kadang Pak Haji lewat habis sholat subuh, cerita gula darahnya turun setelah jalan pagi. Kadang ada ibu-ibu beli minyak goreng sambil curhat anaknya belum bangun. Warung jam 05.00 itu bukan soal dagang tok, tapi soal jadi tempat singgah pertama orang kampung.
Penutup: Ono Wong Moco, Oleh Manfaat
Jam 05.20, kopi sudah setengah gelas. Langit mulai terang. Laptop L755 lawas sudah tak ganjal tutup botol Aqua biar adem, siap buat nulis lagi nanti siang. Fan-nya yang kemarin mati, sekarang sudah muter pelan setelah prosesor tak turunkan jadi 70%.
Diary subuh ini saya tulis bukan karena saya ahli kopi atau ahli warung. Saya cuma penjaga warung biasa. Tulisan ini pendek, jujur, apa adanya. Kalau ada yang mampir dan baca, semoga dapat angetnya juga.
Semoga hari ini laris, berkah, dan kopinya tidak tumpah. Ono wong moco, oleh manfaat, dadi ganjaran. Betul.
Catatan Kamus Leluhur Warung:
- Gedhogan = omahe jaran / kandang kuda / istal (bukan gedhongan)
- Malang = polisi desa zaman dulu, sekarang disebut hansip
Disclaimer Warung Saleho Jatimku: Saya bukan ahli kopi, bukan barista, bukan motivator. Saya hanya pemerhati dan penjaga warung kelontong di Gresik buka jam 05.00-22.00 dengan lampu LED Philips 18 watt. Artikel diary subuh ini saya garap dibantu AI untuk merangkai kata, sudah saya cek dan edit sendiri sesuai kejadian di warung. Tujuannya berbagi cerita jujur dan amal jariyah. Semoga bermanfaat.
Komentar
Posting Komentar