Jam menunjukkan pukul 16.40 sore. Warung sudah mulai sepi. Sisa gorengan pagi tinggal dua, es batu sudah cair, kipas angin bunyinya krek-krek pelan. Aku duduk di kursi plastik biru yang kakinya sudah diikat kawat, menatap jalan yang berdebu.
Langit Gresik sore itu oranye, bukan oranye yang indah seperti di Instagram, tapi oranye yang lelah, seperti habis kerja seharian.
"Cak, tumbas lengo seprapat, gulo seprapat," katanya pelan. Bahasa Jawanya halus.
Aku ambilkan minyak curah 1/4 kilo dan gula 1/4 kilo. Totalnya 12 ribu. Murah, bosku. Tapi bagi sebagian orang, 12 ribu itu perjuangan seharian.
Nenek itu lalu membuka kresek hitamnya di atas etalase. Isinya bukan uang lipatan, tapi recehan. Recehan 200, 500, 1000. Ada yang sudah hitam, ada yang lengket. Dia hitung satu-satu, dengan jari yang gemetar.
"Siji, loro, telu..." gumamnya.
Aku diam. Tidak tega. Di warung, kita sering lihat orang bayar pakai QRIS, pakai uang 100 ribu. Tapi sore itu, aku melihat uang yang jujur. Uang yang dikumpulkan mungkin dari sisa jualan jamu, atau dari ngumpulkan botol bekas.
Hitungannya kurang. Baru 10.500. Kurang 1.500.
Nenek itu panik, bongkar lagi kresek hitamnya, siapa tahu ada yang nyelip. Tidak ada. Dia lihat aku dengan mata yang malu.
"Cak, ngapunten, kurang seribu lima ratus. Nenek balik dulu ya, ambil di rumah."
Rumahnya jauh, bosku. Jalan kaki 15 menit di terik sore. Kalau dia pulang, minyak dan gula itu tidak jadi digoreng hari ini.
Aku bilang, "Mboten nopo-nopo, Nek. Dibawa dulu saja. Kurangnya besok kalau ada."
Nenek itu kaget. "Tenan, Cak? Tidak apa-apa?"
"Tidak apa-apa, Nek. Nenek bawa saja."
Dia tersenyum. Senyumnya itu, bosku, yang bikin daganganku seharian yang capek jadi hilang. Senyum lega. Dia lipat lagi kresek hitamnya, dimasukkan ke saku kebayanya, lalu pergi pelan-pelan sambil bawa minyak dan gula.
Aku lihat punggungnya dari belakang, kecil, membungkuk, melawan cahaya sore.
1.500 rupiah. Di warungku, 1.500 itu harga satu permen. Tapi sore itu, 1.500 itu harga sebuah kepercayaan.
Jam 17.10, warung makin sepi. Aku tulis di buku hutang kecilku: "Nenek kebaya coklat - 1.500". Bukan untuk ditagih, tapi untuk mengingat, bahwa hari ini aku pernah dipercaya untuk berbuat baik.
Jam 17.30, azan asar berkumandang dari masjid sebelah. Aku tutup buku. 1.500 itu tidak akan bikin warungku bangkrut. Tapi kalau aku tolak nenek itu sore itu, hatiku yang bangkrut.
Diary sore ini aku tulis bukan untuk pamer baik, bosku. Aku tulis karena aku penjaga warung. Dan penjaga warung itu bukan hanya jaga barang, tapi juga jaga rasa kemanusiaan yang kadang hilang di antara harga-harga yang naik.
Sore ini warung sepi, tapi hati rame. Karena kresek hitam itu.
Penutup dari Warung Gresik
Buat kamu yang baca ini, kalau sore nanti ada nenek datang ke warungmu atau ke tokomu bawa kresek hitam recehan, jangan dihitung dengan kalkulator saja, hitung dengan hati juga.
Kita tidak pernah tahu, recehan 200 itu dikumpulkan berapa hari.
Warung kelontong itu bukan Indomaret, bosku. Di sini, kita masih bisa bilang, "Dibawa dulu saja, Nek."
Dan itu yang bikin warung kecil tetap hidup sampai sekarang.
Disclaimer Diary
Diary ini adalah kisah nyata dari warung kelontong di Gresik yang ditulis sore hari, bukan fiksi. Nama nenek tidak disebutkan untuk menjaga privasi. Nilai uang 12 ribu dan kurang 1.500 adalah kejadian September 2026, harga bisa berubah. Tulisan ini adalah catatan pribadi penjaga warung tentang kemanusiaan, bukan untuk menggurui.
Kamus Kecil
1. Lengo seprapat: Bahasa Jawa, minyak goreng 1/4 kilo.
2. Gulo seprapat: Gula pasir 1/4 kilo.
3. Kresek hitam: Kantong plastik hitam kecil yang sering dipakai simpan uang receh.
4. Mboten nopo-nopo: Tidak apa-apa (bahasa Jawa halus).
5. Kursi plastik biru: Ikon warung, saksi bisu sepi ramenya warung.
Komentar
Posting Komentar