Langsung ke konten utama

Meski Sore Panas Tetap Menyinari Warungku

Sore ini Tulangan panasnya poll, Lur. Jam 3 sore, matahari masih nyengat di atas genteng warungku. Angin sawah nggak ada, cuma suara jangkrik sama motor lewat.

Aku duduk di depan warung, sambil lap-lap etalase. Es teh di meja udah mencair, tapi pembeli sepi. Biasanya jam segini anak SD pulang sekolah mampir jajan. Hari ini mungkin masih kepanasan di rumah.

brosur diary meski sore panas tetap menyinari warungku warung kayu sawah Sidoarjo senja
brosur diary meski sore panas tetap menyinari warungku warung kayu sawah Sidoarjo senja

Tapi ya nggak apa-apa. Meski sore panas tetap menyinari warungku, aku bersyukur. Soalnya sinar itu yang bikin warungku kelihatan dari jauh. Bapak-bapak tani yang habis dari sawah lihat warungku buka, mereka mampir. "Bu, es teh satu," katanya.

Aku jadi mikir, panas itu bukan musuh. Panas itu tanda hari masih hidup. Kalau mendung terus, sawah nggak kering, padi nggak panen. Warungku juga butuh panas biar orang haus dan mampir.

Jam 4 lewat, matahari agak miring, sinarnya masuk ke dalam warung, kena kaleng-kaleng kerupuk. Jadi kuning keemasan, cantik. Aku senyum sendiri. Warung kecilku ini meski sederhana, tetap disapa matahari setiap sore.

Nggak perlu ramai terus. Yang penting warungku tetap menyala, tetap buka, tetap ditunggu. Sore panas ini ngajarin aku sabar.

Besok insyaAllah hujan, insyaAllah rame lagi. Hari ini cukup dinikmati saja.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Diary Warung Sepi: Ketika Dagangan Tak Banyak Dibeli, Tapi Hidup Harus Tetap Jalan

Diary: Menemukan Buku Catatan Lama dan Tulisan Tangan yang Mulai Asing

Pengaturan Kipas Angin Dinding untuk Warkop Sederhana — Sejuk, Hemat Listrik, Tahan Lama, dan Tidak Mengganggu Tamu

Marwan, Teman Masa Kecilku Pindah Rumah

Hari Ini Aku Tidak Produktif, dan Tidak Apa-Apa

------- =======