Langsung ke konten utama

Entri #08: Subuh, Saat Dunia Masih Milikku Sendiri

Subuh adalah satu-satunya waktu di mana dunia terasa milikku sendiri.
Belum ada pembeli yang memanggil. Belum ada notifikasi HP yang menuntut balasan. Belum ada suara motor lewat atau tetangga yang mulai menyapu halaman. Yang ada hanya dingin lantai yang menyentuh telapak kaki, aroma kopi pertama yang mengepel pelan, dan langit yang masih malu-malu menunjukkan warnanya.
Ilustrasi cat air: sebuah toko kecil yang masih gelap, hanya diterangi cahaya lampu hangat dari dalam, dengan langit subuh berwarna biru keunguan di luar.
"Sebelum dunia ramai, biarkan aku menyimpan tenang sebentar. ☕"
Di jam-jam seperti ini, pikiranku masih jernih. Tidak ada yang harus dikerjakan, tidak ada yang harus dijawab. Aku cuma duduk sebentar di belakang kasir yang masih gelap, mendengarkan napasku sendiri, dan merasa cukup.
Nanti, beberapa jam lagi, toko akan ramai. Akan ada yang menawar harga, ada yang curhat, ada yang komplain. Akan ada hiruk pikuk yang harus kuhadapi dengan senyum.
Tapi sekarang, di subuh yang hening ini, biarkan aku diam sebentar. Menyimpan tenang untuk bekal menghadapi ramainya hari.
Selamat pagi, dunia. Aku siap. ☕

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Diary Warung Sepi: Ketika Dagangan Tak Banyak Dibeli, Tapi Hidup Harus Tetap Jalan

Diary: Menemukan Buku Catatan Lama dan Tulisan Tangan yang Mulai Asing

Pengaturan Kipas Angin Dinding untuk Warkop Sederhana — Sejuk, Hemat Listrik, Tahan Lama, dan Tidak Mengganggu Tamu

Marwan, Teman Masa Kecilku Pindah Rumah

Hari Ini Aku Tidak Produktif, dan Tidak Apa-Apa

------- =======