Siang ini panasnya lumayan bikin malas bergerak.
Dari tadi kipas angin berputar tanpa henti, tetapi anginnya seperti cuma lewat sebentar lalu menyerah. 😄 Udara di dalam rumah tetap terasa hangat. Mau keluar juga rasanya berat. Baru membayangkan panas di luar saja sudah membuat badan ingin kembali duduk.
Segelas es teh dan kipas angin menjadi teman sederhana di siang yang panas.
Akhirnya saya memilih tetap di rumah.
Segelas es teh menjadi teman siang ini.
Siang yang Bikin Ingin Rebahan
Ada waktu-waktu tertentu ketika tubuh seolah memberikan perintah sederhana:
“Sudahlah, jangan ke mana-mana dulu.”
Hari ini salah satunya.
Pekerjaan sebenarnya masih ada. Ada beberapa hal yang seharusnya diselesaikan. Tetapi konsentrasi juga tidak bisa dipaksa terus-menerus.
Baru beberapa menit duduk di depan komputer, pikiran sudah melayang ke mana-mana.
Mungkin karena panas.
Mungkin juga karena memang sedang butuh istirahat.
Akhirnya saya berhenti sebentar.
Laptop ditutup.
Kursi ditarik sedikit ke belakang.
Lalu menikmati es teh yang sejak tadi ada di meja.
Ternyata sesederhana itu saja sudah cukup membuat suasana hati agak membaik.
Panas Mengajarkan Kita untuk Melambat
Kalau dipikir-pikir, kehidupan sehari-hari sering membuat kita terbiasa terburu-buru.
Bangun pagi, bekerja, mengurus ini dan itu, membalas pesan, mengejar pekerjaan yang belum selesai, lalu malam datang tanpa terasa.
Besok semuanya diulang lagi.
Mungkin karena itu, siang yang panas seperti hari ini justru mengingatkan saya untuk memperlambat langkah.
Tidak semua pekerjaan harus selesai dalam satu waktu.
Tidak semua hal harus segera diselesaikan.
Ada kalanya kita perlu berhenti sebentar supaya bisa kembali bekerja dengan pikiran yang lebih segar.
Suara Kipas dan Suasana Rumah
Sekarang suasana rumah cukup tenang.
Hanya suara kipas angin yang terdengar dari sudut ruangan.
Sesekali ada suara kendaraan lewat di jalan depan.
Di luar, matahari masih terasa terik. Jalanan terlihat lebih sepi dibanding pagi tadi. Mungkin banyak orang juga memilih berteduh atau beristirahat.
Saya jadi teringat masa kecil.
Dulu kalau siang terlalu panas, rasanya tidak banyak pilihan selain mencari tempat yang teduh. Kadang tidur siang, kadang bermain di dalam rumah, atau sekadar duduk sambil menunggu matahari mulai turun.
Sekarang suasananya memang berbeda.
Tetapi rasa malas keluar rumah ketika matahari sedang terik ternyata masih sama. 😄
Tidak Ada yang Istimewa dari Siang Ini
Kalau dilihat dari luar, sebenarnya tidak ada kejadian istimewa hari ini.
Tidak ada perjalanan jauh.
Tidak ada acara khusus.
Tidak ada cerita besar.
Hanya siang yang panas, kipas angin, segelas es teh, dan beberapa pekerjaan yang masih menunggu.
Namun mungkin memang seperti inilah sebagian besar kehidupan kita.
Bukan selalu tentang kejadian besar.
Justru lebih banyak diisi oleh momen-momen kecil yang sering tidak kita anggap penting.
Duduk sendirian.
Menikmati minuman dingin.
Mendengarkan suara rumah.
Melihat matahari dari balik jendela.
Kemudian tiba-tiba menyadari bahwa kita sedang baik-baik saja.
Nanti Kalau Matahari Mulai Turun
Saya tidak tahu sampai kapan panas hari ini akan bertahan.
Mungkin sore nanti udara mulai lebih nyaman.
Mungkin angin akan datang.
Mungkin hujan juga turun.
Untuk sementara, saya memilih menikmati saja siang ini.
Setelah es teh habis, mungkin pekerjaan akan dilanjutkan.
Tidak perlu terburu-buru.
Yang penting selesai satu per satu.
Karena ternyata, istirahat sebentar bukan berarti malas. Kadang kita hanya sedang memberi kesempatan kepada tubuh dan pikiran untuk bernapas.
Dan siang yang panas ini mengingatkan saya pada sesuatu yang sederhana:
Tidak semua hari harus penuh dengan kesibukan. Ada kalanya kita hanya perlu duduk, mengipas-ngipas diri, minum sesuatu yang dingin, dan membiarkan waktu berjalan sedikit lebih lambat.
Komentar
Posting Komentar