Warung sudah sepi, Bos.
Jam menunjukkan pukul sebelas malam. Hujan di luar turun pelan, mengetuk-ngetuk atap seng dengan irama yang bikin mata berat. Saya sedang melipat kain lap, bersiap menutup pintu besi dan mematikan lampu teras.
Tadi sore, ada seorang bapak duduk lumayan lama di meja nomor tiga. Dia cuma pesan segelas teh manis hangat. Tidak main HP, tidak ngobrol dengan siapa pun. Matanya cuma menatap keluar kaca, melihat motor dan mobil yang berlarian menghindari hujan.
Saya tidak tanya, "Kenapa, Pak? Ada masalah?"
Warung ini adalah tempat singgah, bukan tempat interogasi. Kadang, orang tidak butuh ditanya apa masalahnya. Mereka cuma butuh tempat duduk yang aman, segelas minuman hangat, dan keheningan sejenak sebelum pulang dan kembali memikul beban di rumah.
Saya biarkan dia duduk sampai tehnya habis. Saat dia pamit, dia cuma senyum tipis dan bilang, "Matur nuwun, Mas. Tehnya enak. Perasaan saya jadi agak lega."
Saya cuma mengangguk. Padahal tehnya teh celup biasa, Bos. Yang membuatnya lega bukan tehnya, tapi ruang untuk berhenti sejenak.
Hidup ini kadang seperti lari maraton yang tidak ada garis finisnya. Kita terus dikejar target, dikejar tagihan, dikejar ekspektasi orang lain. Lupa kalau mesin saja butuh dimatikan agar tidak overheat, apalagi hati manusia.
Malam ini, dari balik etalase warung yang mulai gelap, saya cuma ingin berpesan pada Bos dan siapa saja yang membaca ini:
Kalau hari ini terasa terlalu berat, tidak apa-apa untuk berhenti sejenak. Tarik napas. Minum air hangat. Besok kita coba lagi.
Saya matikan lampunya dulu ya, Bos. Selamat beristirahat.
Salam hangat dari penjaga warung,
Agustus 2026
Komentar
Posting Komentar