Langsung ke konten utama

Diary Pagi di Gubuk Sawah Menunggu: Antara Embun, Doa, dan Harapan Panen di Tulangan Sidoarjo

DIARY PETANI - TULANGAN, SIDOARJO

Rabu, 26 Agustus 2026 - 05:48 WIB - Gubuk Sawah RT 03 Tulangan

diary pagi di gubuk sawah tulangan sidoarjo embun teh hangat buku diary caping thermos matahari terbit

Gambar 1. Pagi berkabut di Gubuk Sawah Tulangan Sidoarjo - teh hangat menemani diary menunggu matahari dan padi menguning.

05:48 Pagi. Tulangan, Sidoarjo.
Aku sudah di gubuk. Kabut masih tebal, seperti selimut putih di atas padi yang baru umur 30 hari. Capingku basah embun. Di meja kayu reot ini ada buku diary kulit coklat, pulpen bambu, termos hijau, dan cangkir kaleng yang ngebul.

Di buku diary ku tulis:
"Senin, 6:08 pagi - Tulangan, Sidoarjo - Pagi berkabut, menunggu matahari. Teh hangat menemani. Sunyi. Hanya embun dan angin di sawah. Menanti. Bersyukur."

Menunggu apa sih sebenarnya?

Menunggu matahari naik pelan-pelan dari balik pohon pisang. Menunggu padi yang kemarin kuning sedikit, hari ini semoga lebih kuning. Menunggu kabar harga gabah di grup WA. Menunggu anak yang kuliah di Surabaya telepon: "Pak, kirim beras ya".

06:15 - Burung emprit mulai ramai. Suara adzan subuh dari mushola jauh masih menggema samar. Aku buka termos, tuang teh. Tehnya pahit manis, kayak hidup petani.
Di gubuk ini aku jadi penyelamat diri sendiri Lur. Di sini tidak ada tagihan, tidak ada notif Shopee, tidak ada orang nyinyir. Hanya aku, sawah, dan Allah.

06:30 - Embun mulai turun dari atap rumbia. Tik tik tik. Aku ingat kisah Nabi Yusuf kemarin yang tak tulis. Dia menunggu 7 tahun subur, 7 tahun paceklik. Aku juga menunggu. Menunggu panen 2 bulan lagi. Kalau jadi, bisa buat bayar sekolah anak, bisa zakat 10 karung buat tetangga.
Menunggu itu ibadah Lur. Sabar itu petani banget.

06:45 - Matahari nongol, kuning emas. Sawahku berkilau. Aku tutup diary. Tulis satu kalimat terakhir:

"Ya Allah, aku sudah tanam. Aku sudah tunggu. Selebihnya, Engkau yang tumbuhkan. Jadikan aku petani penyelamat pangan, bukan cuma pencari uang."

Aku seruput teh, pakai caping, turun ke lumpur. Pagi dimulai.
Versi PDF ya, yuk download: Diary Pagi di Gubuk Sawah Menunggu: Antara Embun, Doa, dan Harapan Panen di Tulangan Sidoarjo

- Petani Tulangan, 26 Agustus 2026 -

GLOSSARY DIARY

Gubuk Sawah: Rumah kecil dari bambu dan rumbia di tengah sawah untuk istirahat petani.
Caping: Topi petani dari bambu anyam.
Menunggu: Dalam Islam, menunggu dengan sabar dan doa adalah bentuk tawakal.
Embun: Tanda rezeki pagi, doa pagi mustajab.
Diary Pagi: Catatan hati petani, healing tanpa harus ke cafe.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Diary Warung Sepi: Ketika Dagangan Tak Banyak Dibeli, Tapi Hidup Harus Tetap Jalan

Diary: Menemukan Buku Catatan Lama dan Tulisan Tangan yang Mulai Asing

Pengaturan Kipas Angin Dinding untuk Warkop Sederhana — Sejuk, Hemat Listrik, Tahan Lama, dan Tidak Mengganggu Tamu

Marwan, Teman Masa Kecilku Pindah Rumah

Hari Ini Aku Tidak Produktif, dan Tidak Apa-Apa

------- =======